Kemacetan Jakarta Adalah Prisoner’s Dilemma

Although being out of prison is necessary to n...
Image via Wikipedia

Prisoner’s dilemma adalah contoh paling mudah dari analisis game theory. Saya cerita sedikit ya untuk yang belum tahu.

Ada dua orang yang melakukan kejahatan dan akhirnya ditangkap polisi. Karena kurang bukti, akhirnya polisi memisahkan interogasi dua orang ini dan meminta mereka bersaksi bahwa temannya yang bersalah. Kalau satu orang mengadukan partnernya dan satu orang lagi diam, maka yang mengadu akan bebas dan yang diam dihukum setahun penjara. Kalau keduanya diam, mereka berdua hanya akan dipenjara sebulan. Kalau dua-duanya saling mengadu, maka keduanya akan dipenjara 3 bulan.

Marilah kita melihat situasinya sebagai salah satu dari dua orang itu sebagai berikut.

  • Kalau teman saya mengadukan saya dan saya tidak mengadu, saya dipenjara setahun. Kalau saya ikut mengadu, saya dipenjara 3 bulan. Maka kalau teman saya mengadu, lebih untung kalau saya ikut mengadu.
  • Kalau teman saya tidak mengadukan saya dan saya juga diam, saya dipenjara sebulan. Kalau saya mengadu, saya langsung bebas. Jadi kalau teman saya tidak mengadu, tetap lebih untung kalau saya mengadu.

Jadi mengadukan teman (selalu) merupakan keputusan (individual) terbaik untuk meminimalkan waktu dalam penjara. Nah, bayangkan kalau keduanya berpikir begitu, akhirnya mereka berdua saling mengadukan dan mendekam tiga bulan dalam penjara. Padahal kalau mereka sama-sama diam lebih menguntungkan dan bisa bebas dalam sebulan. Inilah secara singkat apa yang disebut sebagai prisoner’s dilemma.

Apa hubungannya dengan kemacetan Jakarta? Salah satu sebab macet di Jakarta adalah semua orang mau cepat sampai tujuan sendiri dan tidak mementingkan yang terbaik bagi semua. Akibatnya terjadilah salip serobot dan pelanggaran-pelanggaran peraturan dan etika berkendara lainnya. Padahal kalau sama-sama tertib, sama-sama antri niscaya perjalanan akan lebih cepat untuk semua. Ya kembali lagi seperti prisoner’s dilemma, bahwa ternyata keputusan terbaik individual bukan keputusan terbaik kolektif dan pada akhirnya merugikan dirinya sendiri sebagai anggota koleksi itu. Yuk sama-sama tertib di jalan 🙂

Untuk penjelasan Matematika sederhana lainnya dari saya, silahkan klik di sini.